5. KONFIGURASI ELEKTRON
Kimia Kurikulum 2013
BAB 2. Struktur Atom & Sistem Periodik UnsurPertemuan I
KONFIGURASI ELEKTRON
Senang berjumpa kembali dengan Sahabat "Rabu EduChem" dimanapun berada yang ingin terus mendalami ilmu Kimia. Kali ini kita akan membahas Materi Pokok BAB 2. STRUKTUR ATOM DAN SISTEM PERIODIK UNSUR dengan Pokok Bahasan 3.3 Konfigurasi Elektron dan Pola Konfigurasi Elektron
terluar untuk setiap golongan dalam tabel periodik dan 4.3 Menentukan letak suatu unsur dalam tabel periodik berdasarkan konfigurasi elektron yang akan dilaksanakan
sebanyak 3 pertemuan.
- Pertemuan 1 membahas Konfigurasi Elektron
- Pertemuan 2 membahas Bilangan Kuantum dan Bentuk Orbital
- Pertemuan 3 membahas Menentukan Letak Unsur (Periode dan Golongan) dalam SPU dengan bantuan konfigurasi elektron .
Berikut link video pembelajaran tentang penjelasan Konfigurasi Elektron. Ditonton sampai habis ya semoga membantu lebih memahami materi ini https://youtu.be/aodc-1_tHWo
Video 1. Media Pembelajaran Konfigurasi Elektron
Disimak baik-baik KD dan IPK pembelajaran ini.
Kompetensi Dasar (KD)
Tabel 1. Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Tabel 2. Indikator Pencapaian Kompetensi
Disimak materinya sampai habis ya. Semoga setelah membaca materi dalam blog ini sahabat "Raksa Budi EduChem" dapat lebih memahami bahasan ini.
Tabel 2. Indikator Pencapaian Kompetensi
Disimak materinya sampai habis ya. Semoga setelah membaca materi dalam blog ini sahabat "Raksa Budi EduChem" dapat lebih memahami bahasan ini.
Elektron-elektron suatu atom terdistribusi dalam
orbital-orbital pada kulit utama dan subkulitnya. Cara penulisan yang
menunjukan distribusi elektron ini disebut konfigurasi elektron. Konfigurasi elektron menggambarkan penataan
elektron-elektron dalam suatu atom. Konfigurasi
elektron dalam orbital suatu atom sangatlah penting karena konfigurasi elektron
berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia suatu unsur. Pada penulisan konfigurasi elektron perlu
dipertimbangkan tiga aturan (asas), yaitu prinsip Aufbau, asas Larangan Pauli, dan
kaidah Hund.
A. Prinsip Aufbau
Aufbau berarti membangun. Menurut prinsip Aufbau, elektron di
dalam suatu atom akan berada dalam kondisi yang stabil bila mempunyai energi
yang rendah, sedangkan elektron-elektron akan berada pada orbital-orbital yang bergabung
membentuk subkulit. Jadi, menurut prinsip Aufbau, "elektron mempunyai
kecenderungan akan menempati subkulit yang tingkat energinya rendah baru akan
menempati subkulit yang tingkat energinya lebih tinggi". Secara kasar besarnya
tingkat energi dari suatu subkulit dapat diketahui dari nilai bilangan kuantum
utama (n) dan bilangan kuantum azimut (l) dari orbital tersebut. Tingkat energi
dari yang rendah ke yang tinggi Dapat dilihat pada diagram berikut :
Gambar 1. Diagram Orbital Tingkat Energi
Urutan-urutan tingkat energi ditujukan pada diagram diatas. Jadi pengisian orbital dimulai dari orbital 1s, 2s, 2p, dan seterusnya. Pada gambar dapat dilihat bahwa subkulit 3d mempunyai energi lebih tinggi daripada subkulit 4s. Oleh karena itu, setelah 3p terisi penuh maka elektron berikutnya akan mengisi subkulit 4s, baru kemudian akan mengisi sub kulit 3d.
Langkah-langkah
penulisan konfigurasi elektron:
- Menentukan jumlah elektron dari atom tersebut. Jumlah elektron dari atom unsur sama dengan nomor atom unsur tersebut.

- Menuliskan jenis subkulit yang dibutuhkan secara urut berdasarkan diagram orbital berikut. urutannya : 1s- 2s- 2p- 3s- 3p- 4s- 3d- 4p- 5s- 4d- 5p- 6s- 4f- 5d- 6p- 7s- 5f- 6p- 7p- 8s
- Mengisikan elektron pada masing-masing subkulit dengan memperhatikan jumlah elektron maksimumnya, maka sisa elektron dimasukan pada subkulit berikutnya.
B. Larangan Pauli
Asas
Larangan Pauli disebut juga prinsip eksklusi Pauli. Asas ini dikemukakan oleh
Wolfgang Pauli pada tahun 1926. Menurut Pauli, tidak
ada dua elektron dalam satu atom yang boleh mempunyai keempat bilangan kuantum
yang sama. Orbital yang sama akan mempunyai bilangan kuantum n, l, m yang sama.
Dengan demikian, yang dapat membedakan hanya bilangan kuantum spin (s). Setiap
orbital hanya dapat berisi 2 elektron dengan spin (arah putar) yang berlawanan.
Dengan adanya larangan Pauli ini, maka elektron yang
dapat menempati suatu subkulit terbatas hanya dua kali dari jumlah orbitalnya.
Jumlah maksimum elektron adalah sebagai berikut :
Sehingga orbital s berpangkat maksimal 2, orbital p berpangkat maksimal 6, orbital d berpangkat maksimal 10, orbital f berpangkat maksimal 10. oleh karena itu, urutan konfigurasi elektron menjadi 1s2- 2s2- 2p6- 3s2- 3p6- 4s2- 3d10- 4p6- 5s2- 4d10- 5p6- 6s2- 4f14- 5d10- 6p6- 7s2- 5f14- 6p6- 7p6- 8s2
C. Aturan Hund
Untuk menyatakan distribusi elektron-elektron pada orbital-orbital dalam suatu subkulit, konfigurasi elektron dapat dituliskan dalam bentuk diagram orbital. Dua elektron yang menghuni satu orbital dilambangkan dengan dua anak panah yang berlawanan arah. Jika orbital hanya mengandung satu elektron, anak panah dituliskan mengarah ke atas.
“Orbital-orbital dengan energi yang sama, masing-masing diisi lebih dulu oleh satu elektron arah (spin) yang sama atau setelah semua orbital masing-masing terisi satu elektron kemudian elektron akan memasuki orbital-orbital secara urut dengan arah (spin) berlawanan”
Berdasarkan pendapat Friedrich Hund keadaan yang paling rendah energinya (paling stabil) adalah bila elektron-elektron mengisi pada satu subkulit dengan menempati atau tersebar ke semua orbital dengan spin yang sejajar (spin sama) (1/2 penuh) baru kemudian berpasangan (Penuh), aturan ini dikenal dengan Aturan Hund.
D. Menentukan Konfigurasi Elektron Suatu Unsur
Berikut merupakan contoh-contoh konfigurasi hasil penerapan aturan Hund, Larangan Pauli dan Prinsip Aufbau.
E. Penyederhanaan Konfigurasi Elektron
Konfigurasi atom netral
Konfigurasi elektron dari gas mulia dapat dipergunakan untuk menyingkat konfigurasi elektron dari atom-atom yang mempunyai jumlah elektron (bernomor atom) besar.
Konfigurasi elektron gas mulia sebagai berikut.
Perhatikan cara penyingkatan konfigurasi elektron berikut.
Konfigurasi elektron ion
positif dan ion negatif
Misalnya konfigurasi elektron ion K+ dan ion Cl–
19K:
1s2 2s2 2p6 3s2
3p6 4s1
Bila atom K melepaskan 1 elektron maka terjadi ion K+ yang
mempunyai jumlah proton 19 dan elektron 19 – 1 = 18 maka Konfigurasi elektron
ion K+: 1s2 2s2 2p6
3s2 3p6
17Cl:
1s2 2s2 2p6 3s2
3p5
Bila atom Cl menerima 1 elektron maka terjadi ion Cl– yang mempunyai
jumlah proton 17 dan elektron 17 + 1 = 18 Konfigurasi elektron ion Cl–:
1s2 2s2 2p6 3s2
2p6
Konfigurasi elektron ion K+ = ion Cl– = atom Ar,
peristiwa semacam ini disebut isoelektronis.
F. Penyimpangan Pengisian Elektron Orbital d
Konfigurasi elektron suatu unsur
harus menggambarkan sifat suatu unsur. Berdasarkan hasil eksperimen ditemukan beberapa penyimpangan konfigurasi
elektron dari azas Aufbau. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sifat unsur
lebih stabil apabila orbital dalam suatu atom unsur terisi elektron tepat 1/2 penuh atau
tepat penuh, terutama orbital-orbital d dan f (5 elektron atau 10
elektron untuk orbital-orbital d dan 7 elektron atau 14 elektron untuk orbital-orbital
f). Apabila elektron pada orbital d dan f terisi elektron
1 kurangnya dari setengah penuh/penuh, maka orbital d/f tersebut harus
diisi tepat 1/2 penuh atau tepat penuh. Satu elektron penggenapnya diambil dari orbital s
yang terdekat. Misalnya
konfigurasi elektron pada 24Cr. Konfigurasi elektron berdasarkan
azas Aufbau adalah :
24Cr
: [Ar] 4s2 3d4 kurang stabil, maka berubah menjadi [Ar]
4s1 3d5
29Cu
: [Ar] 4s2 3d9 kurang stabil, maka berubah menjadi [Ar] 4s1 3d10
Penyimpangan ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat energi yang
sangat kecil antara subkulit 3d dan 4s pada
masing-masing atom tersebut. Pengisian orbital penuh atau setengah penuh
relatif lebih stabil.




Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusini adalah pembelajaran Kurikulum 2013 KD. 3.3 dan 4.3 silahkan disimak ya
Hapus